Soe Hok-gie: Sang Intelektual yang Berdedikasi

Tidak ada komentar

 “ Soe Hok Gie, Siapa Itu ? “. Mungkin kalimat itu pantas menggambarkan kehidupan saya sebelum masuk dunia perkuliahan. Jujur saja, nama Gie sangat asing di telinga, bahkan tidak pernah terdengar namanya sama sekali. Entah saya yang dahulu bukan orang penggemar membaca buku, atau sistem pendidikan yang salah – dengan tidak pernah mengenalkan para tokoh-tokoh penggerak bangsa seperti: Tan Malaka, Wiji Thukul, Marsinah, Munir, dan Soe Hok Gie.

Menginjak bangku kuliah nama-nama yang sudah saya sebutkan di atas, mulai tidak asing lagi bagi saya. Banyak cara yang saya lakukan untuk mengenal beberapa tokoh di atas, terutama melalui dua cara: membaca atau melihat film. Termasuk awal mula saya kenal sosok Soe Hok Gie berawal dari membaca quotesnya di instagram. Kalimat-kalimat Gie dinilai menarik bagi saya, sehingga menimbulkan rasa penasaran padanya.

Tak tinggal diam, saya coba mengulik Gie lebih dalam lagi dengan menelusurinya di google. Saya baru tahu bahwa ia merupakan mahasiswa UI, yang berpengaruh dalam perubahan. Dan ini terlihat jelas dalam filmnya, yang meringkas kisah kehidupannya semenjak kecil sampai tewas di saat pendakiannya.

Hal yang membuat saya kagum pada Gie, ia memiliki caranya sendiri untuk melakukan perubahan. Seketika itu saya mulai tersadar, bahwa untuk menjadi orang berpengaruh tidak selalu dengan jabatan, melainkan dengan hal sederhana juga bisa dilakukan. Biasanya Gie menggunakan cara seperti: mengkaji film dan menulis. Mungkin, menonton film tidak akan berpengaruh secara langsung terhadap perubahan jalannya pemerintahan. Tetapi, Gie tidak sekadar menyaksikan film, melainkan dibarengi dengan kajian diskusi film. Sehingga dengan kajian semacam itu dapat mendobrak rasionalitas dan pemikiran kritis seseorang.

Lalu, cara Gie yang kedua dilakukannya dengan menulis. Dengan menulis kita bisa memberikan informasi kepada seseorang, tentang apa yang belum diketahui oleh banyak orang. Dan itu yang dilakukan Gie, agar masyarakat Indonesia memahami dinamika kehidupan negara sebenarnya. Karena, tulisan-tulisan Gie banyak mengarah pada kritikan terhadap jalannya pemerintahan negara dan bahkan tidak segan untuk mengkritik temannya sendiri.

Ya, Gie mengkritik temannya sendiri, dengan dalih ia tidak menyukai sikap temannya yang gelap mata setelah menerima jabatan politik. Ini terjadi ketika sebelumnya para aktivis mahasiswa berbondong untuk mengkritik pemerintah, lalu beberapa aktivis berubah sikap saat mendapatkan jatah di parlemen. Sehingga  Gie menganggap politik sebagai “tai kucing”, pemikiran itu memang benar adanya. Gie muak melihat temannya sendiri ketika melakukan aksi politik, tanpa mau melihat kepentingan bersama.

Dari saking muaknya, Gie memiliki keputusan kuat untuk tidak ikut organisasi mahasiswa ekstra kampus atau disebut ormek. Alasan Gie untuk menolak ikut ormek, karena hanya membuat Gie terikat pada kepentingan golongan saja. Coba saksikan saat jalannya politik kampus, teman sudah dianggap lawan. Aksi saling bentrok menjadi hal lumrah dipertontonkan, yang terpenting kepentingan golongan bisa tercapai, tanpa peduli benar atau salah.

Dapat dikatakan Gie merupakan salah satu aktivis Indonesia yang memiliki idealisme kuat, dan ini menjadi alasan saya menjadikannya panutan. Ia tetap berdiri pada pendiriannya dengan tidak ingin terjun ke panggung politik. Mungkin, aktivis sekarang yang memiliki idealisme kuat sulit ditemukan. Bisa dilihat sendiri berapa banyak mantan aktivis yang sebelumnya mengkritik pemerintah, kini menjadi teman baik pemerintah.

            Gie memang dilahirkan menjadi aktivis kritis, sehingga mampu berpikir secara rasional dalam mengambil keputusannya. Rasa kritis itu sudah muncul semenjak di bangku sekolah – dengan mengkritik sistem pendidikan yang dianggapnya buruk. Bagaimana tidak buruk, jika guru dianggap dewa dan murid dipandang sebelah mata. Gie tidak takut melontarkan kritikan terhadap gurunya. Sosok Gie bisa menjadi inspirasi untuk mengatakan salah pada hal yang salah, dan benar jika memang benar.

            Tetapi, di balik sikap kritisnya ada sisi lain pada diri Gie yang membuat saya terkesan, yaitu “romantisme”.  Romantisme Gie terlihat ketika bersama teman-temannya, dapat dikatakan Gie memiliki solidaritas pertemanan yang solid. Selalu membantu teman saat dilanda kesusahan atau bahkan tidak mau mencampuri pertemanan dengan kepentingan lain. terlihat jelas saat mendaki gunung bersama temannya – tujuan utamanya menambah kedekatan dengan teman. Gie juga bersikap ramah tamah kepada perempuan. Bahkan sebelum meninggal, ia tak lupa membuat surat khusus pada Ira.

Selamat jalan Gie, engkau sudah cukup untuk mengurus negara ini. Tuhan memiliki jalan lain agar engkau tidak terlalu lelah melihat negara dengan sikapnya yang semakin membingungkan. Biarkan jasadmu menjadi tanda perjuangan, doakan saja “ semoga tidak ada lagi para pengkritik pemerintah bermain mata di belakang”.  

Instagram: @akbarmawlana3113

 


Tidak ada komentar :

Posting Komentar