Kenalan dengan Demonstran di Hari Aksi Demo

Tidak ada komentar

Tanggal 23 September 2019, mahasiswa dari hampir seluruh perguruan tinggi yang ada di Indonesia menggelar aksi demo besar-besaran. Saya yang masih duduk di bangku SMA hanya bisa menonton dengan takjub aksi para mahasiswa di layar kaca televisi. Beberapa jam sekali, saya mengecek akun media sosial—Instagram—untuk mendapat informasi terbaru tentang aksi demo ataupun hanya untuk sekadar melihat dengan jelas foto-foto para mahasiswa dengan spanduk-spanduknya yang “nyeleneh”. Di beranda Instagram, saya juga banyak menjumpai banyak foto berisi penggalan kalimat dari tokoh-tokoh seperti Wiji Thukul dan Chairil Anwar. Dari beranda Instagram, kemudian saya iseng melihat snapgram teman-teman saya. Salah seorang teman saya membuat snapgram berisi petikan kata-kata bijak dari tokoh yang sama sekali tidak saya ketahui sebelumnya. Di dalam foto tersebut, ada foto seorang laki-laki, sepenggal kalimat berbunyi, “Lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan.”, serta nama Soe Hok Gie.

 First impression saya adalah Soe Hok Gie bukan orang Indonesia. Merasa kepo dengan sosok Soe Hok Gie, saya coba untuk search biografi Soe Hok Gie di Google. Saya ingat pada hari itu, saya menghabiskan sisa hari dengan meluncur dari satu website ke website lainnya untuk mencari informasi tentang Gie. Akhirnya pada hari itu, saya tahu bahwa dulu pernah ada sosok pemuda yang sangat berani, yang berpikiran sangat kritis, yang sangat menjunjung tinggi nilai kemanusiaan, dan yang-yang lainnya. Akhirnya pada hari itu, saya tahu bahwa dulu pernah ada sosok pemuda bernama Soe Hok Gie.

 Saya tidak berhenti di situ saja. Setelah berkenalan lewat banyak sekali website, saya akhirnya membeli buku Catatan Harian Seorang Demonstran. Sosok Gie terus-menerus memukau saya. Tulisannya yang berisi pemikirian-pemikirannya benar-benar wah. Tangan saya dibuat tidak sabaran untuk terus-menerus membalik setiap halaman. Gie seperti menghipnotis saya dengan tulisan-tulisannya. Setelah berkenalan lewat buku, tibalah saya akhirnya tahu kalau kisah Gie pernah diangkat ke layar lebar. Dan yang memerankan Gie adalah Nicholas Saputra!

 Saya benar-benar dibuat kagum dengan sosok Soe Hok Gie. Sampai sekarang pun, saya masih suka meluncur di website-website untuk baca artikel tentang Gie. Bahkan kadang-kadang, saya suka iseng buka website Daftar Anggota Mapala UI hanya untuk menemukan tulisan  nama Soe Hok Gie di samping angka 7. Saya memang sekagum itu dan Gie memang se-menginspirasi itu. Dari sosok Gie, saya belajar untuk berani berdiri di atas kaki sendiri. Selain itu, saya belajar untuk lebih memanusiakan manusia. Pokoknya, saya belajar banyak hal dari sosok Soe Hok Gie.

Kadang-kadang di waktu senggang, saya suka bertanya-tanya. Kalau Gie hidup lebih lama, bagaimana keadaan negara Indonesia ataupun dunia saat ini? Wah, kadang saya berharap saya punya teman di kehidupan nyata untuk berbagi pertanyaan dan pemikiran tentang Gie. Sayang sekali, saya tidak punya teman untuk melakukan itu. Jadilah saya hanya membaca pemikiran-pemikiran orang tentang Gie di media sosial.

Nanti, setelah dunia pulih, saya berencana untuk pertama kalinya berkunjung ke Museum Taman Prasasti. Dan untuk mengakhiri tulisan ini, saya ingin mengucapkan terima kasih, kepada Soe Hok Gie yang sudah mau berkenalan dengan saya pada tanggal 23 September 2019.

Instagram: @yasminalis_

Tidak ada komentar :

Posting Komentar